Pages

Thursday, August 31, 2023

Penyakit Rasa

Bersabar adalah kunci dari ridha Allah. Bahkan saat kita bersabar, Allah akan mengutus malaikat untuk membela ketidakbenaran. Sabar adalah ketahanan mental-spiritual. Dan syarat agar bisa menguasai ilmu sabar kita harus memiliki ketahanan jiwa dan kekayaan mental-spiritual.

Dan dengan menambah waktu untuk beribadah maka kita akan menjadi orang yang lebih tenang dan selalu bersabar.

Orang yang tidak mengenal Allah, akan mudah dan rentan stres. Karena saat orang tersebut memiliki masalah, maka dia tidak memiliki Dzat yang dapat dijadikan sandaran dan tempat mengadu. Lalu orang tersebut akan merasa sendiri, galau, bingung, khawatir dan ketakutan.

Selain sabar, kita juga perlu ikhlas. Ikhlas adalah sadar, rela, menerima dan berserah diri. Ilmu ikhlas harus datang dari diri sendiri dan bukan merupakan sebuah paksaan. Ikhlas adalah pangkal dari kejujuran spiritual serta sekaligus mengakui Allah sebagai penguasa. Sadar bahwa semua yang kita lakukan di dunia ini karena Allah.

Selain ikhlas dan sabar, kita juga perlu menghindari penyakit hati, yaitu diantaranya adalah marah, iri hati dan dendam. Orang yang memiliki dendam akan dapat merugikan diri sendiri. Jika kita tidak segera memaafkan yang menyakiti kita, maka akan justru semakin menyakiti diri kita sendiri.

Penyakit hati akan membuat rugi kita sendiri, selain juga dibenci oleh Allah. Untuk menghilangkan penyakit hati, kita dapat menetralisirnya dengan berpuasa.


Sumber :

https://potretbuku.blogspot.com/2023/05/ya-allah-maaf-saya-tidak-ada-waktu.html

Olah Rasa

Olah Raga, Olah Pikiran, Olah Jiwa dan Olah Hati

Dalam tubuh manusia ada 4 hal yang perlu diperhatikan dan diseimbangkan agar dapat hidup seimbang dan bahagia, yaitu maka manusia perlu memperhatikan dan mengolah empat unsur yang ada di manusia yaitu Raga, Pikiran, Jiwa dan Hati.


Raga

Raga perlu senatiasa diasupi makanan yang bergizi, agar tumbuh dan berkembang serta mempunyai kebiasaan berolahraga supaya raga atau tubuh menjadi lebih sehat, lebih kuat dan tumbuh dengan sempurna.


Pikiran

Belajar merupakan proses perubahan sebagai hasil dari pengalaman atau latihan dengan interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.


Jiwa

Jiwa perlu asupan dari sesuai perkembangan usia seperti moral, budi pekerti dan keimanan, sesuai dengan semboyan ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat’.


Hati

Rasa atau hati perlu memiliki kepekaan kepada rasa di dalam diri sendiri maupun rasa karena efek dari eksternal, akan membentuk Rasa lebih tajam terhadap hal-hal yang dirasakan Raga dan Jiwa. Rasa semakin peka akan menjadikan manusia lebih tenggang rasa kepada manusia lain, masyarakat dan dunia.


Sumber :

http://www.taufanyanuar.com/2019/03/olah-raga-olah-pikiran-olah-jiwa-dan.html

Empat Level Rasa & Hati

LEVEL 01

Tertarik

Perasaan pada pandangan pertama, bukanlah cinta, karena itu hanya sedang tertarik saja. Tertarik merupakan perasaan paling dasar yang kemungkinan akan menghantarkan kita pada tingkat kekaguman. Ketertarikan bersifat sementara, dan bisa hilang dalam waktu yang cepat.

Rasa tertarik biasanya muncul paling pertama kali. Perasaan itu biasanya menyelip muncul ketika kamu tidak sengaja melihat atau menemukan sesuatu. Rasa tertarik ini adalah perasaan yang paling mendasar sebelum kamu bisa merasa kagum sama seseorang. Kalau kamu nggak tertarik sama seseorang, kamu nggak mungkin mendekati atau mencari tahu hingga bisa kagum, bahkan hingga suka, sayang dan cinta sama seseorang. Waktu kamu tertarik, ada satu hal kecil dari diri seseorang yang membuatmu ingin mengenal dia lebih jauh lagi.

Setiap orang memiliki daya tarik yang hanya dianggap menarik oleh seseorang atau sebagian orang saja. Misalnya nih, mungkin kelebihanmu adalah orang yang straight to the point. Bagi sebagian orang mungkin hal itu bukan hal yang menarik dan menyenangkan, tapi mungkin buat seseorang atau sebagian orang, mereka melihatnya sebagai daya tarikmu.

Rasa tertarik ini mudah sekali untuk pudar, apalagi bila tidak dibarengi dengan kemauan untuk mengenal orang itu lebih dalam lagi. Dengan frekuensi pertemuan dan interaksi yang minim, rasa tertarik itu mungkin akan mengapung di sana. Menjadi sekadar rasa tertarik, tanpa bisa bertumbuh menjadi rasa kagum.


Kagum

Setelah ada rasa tertarik, kemudian dilanjutkan proses yang relatif sering, selanjutnya tumbuh rasa kagum, dikarenakan yang bersangkutan mempunyai kelebihan dan layak dijadikan pujian. Rasa kagum bersifat sementara dan bisa hilang. Kagum hanya menghantarkan pada kesenangan, sisi menarik dan baik saja, tapi tidak pada hal keburukan. Namun kekaguman juga bisa jadi benih cinta. 

Kagum adalah perasaan positif dan enggak harus menuntut berlanjut ke perasaan cinta. Walaupun seringkali saat kita beneran cinta sama seseorang, kita akan melalui perasaan ini. Saat kagum, kita merasa tertarik dengan orang tersebut dan seringkali menghabiskan waktu bersama. Kenangan-kenangan bersamanya selalu berkesan dan menempel di pikiran kita. Bahkan saat seseorang enggak sengaja menyebut nama orang yang kita kagumi ini, kita langsung bisa mengingat kenangan-kenangan itu dan merasa senang.

Rasa kagum itu bisa muncul kapan saja, dimana saja, sama siapa saja dan biasanya muncul setelah rasa tertarik muncul. Rasa kagum nggak terbatas hanya sama lawan jenis, tapi kamu juga bisa kagum sama temanmu yang sesama jenis. Rasa kagum biasanya muncul setelah kamu tertarik sama seseorang. Kamu jadi kagum karena orang itu memiliki kelebihan yang menurutmu menarik.

Contohnya nih, kamu bisa saja kagum sama cowok yang cakep dan tampan atau cewek berparas cantik dan anggun , kamu bisa juga kagum sama pemain gitar yang baru kamu lihat di konser, walau kamu nggak kenal siapa orang itu atau pun bagaimana kebiasaannya sehari-hari setelah kamu tertarik melihat permainan gitarnya yang lihai. Kamu juga bisa saja kagum dengan temanmu yang baru selesai presentasi dengan flawless dan berhasil meyakinkan dirimu serta seisi ruangan bahwa pemikirannya itu super keren.

Biasanya, rasa kagum ini sifatnya sementara. Ketika kamu menemukan seseorang yang dapat membuatmu berdecak kagum lebih keras, maka rasa kagummu pada orang yang lama bisa saja hilang. Tapi ingat lho, guys, rasa kagum itu juga benih dari cinta, yang kalau disirami secara rutin dan teratur bisa bertumbuh.

Bedanya kagum sama rasa lainnya? Saat kamu mengagumi seseorang, kamu akan selalu memperhatikan sisi atau kulit luarnya. Kamu hanya sebatas senang dengan apa yang ia lakukan dan ketika ada sisi buruk dari dirinya yang kamu temukan, rasa kagummu juga bisa hilang. Ketika seseorang itu tidak mencapai ekspektasimu, maka ucapkan sampai jumpa dengan orang itu.


Naksir 

Naksir adalah kondisi ketika kita merasa tertarik kepada seseorang. Hanya saja, naksir sering dilalui saat kita mengalami cinta monyet. Naksir digolongkan ke dalam short-term feeling yang artinya sering enggak berlangsung lama. Naksir adalah merasa senang kalau punya kesamaan terhadap sesuatu. Gejalanya seringkali menulis puisi, cerpen, melukis  atau selalu memikirkan orang itu. Pokoknya mau ngapa-ngapain ingetnya orang itu doang.


LEVEL 02

Suka

Setelah ada rasa kagum, seiring berjalananya waktu, pelan-pelan kita akan mulai menyukai seseorang. Perasaan tersebut bisa semakin tebal hingga kita merasa butuh untuk menjadikan dia sebagai milik kita seorang saja. Rasa suka terkadang egois, karena kita memaksakan untuk berubah menjadi sosok yang kita sukai dan ingini tanpa melihat perbedaan fakta yang ada.

Mirip seperti naksir, perasaan suka diawali dengan rasa tertarik pada seseorang. Dalam proses suka, kita sering mencari-cari kecocokan, karena di kondisi ini kita memikirkan seseorang tersebut punya potensi memiliki hubungan yang lebih dengan kita. Lucunya, saat suka kita masih punya kemungkinan ilfil dengan target kita ini. Misalnya dia enggak sengaja kentut, terus bau banget dan kita jadi ilfil. Itu sering banget kejadian. Sering telponan sama gebetan terus dia bilang, “Lo dulu aja yang nutup telepon.” Well, itu adalah salah satu tanda dia suka sama kita. 

Ketika kamu sudah tertarik dan kagum sama seseorang, lama kelamaan kamu bisa suka sama orang tersebut. Bagaimana bisa? Tidak ada penjelasan ilmiah di balik pernyataan ini tapi, satu hal yang penulis pegang pasti. Bila rasa kagum itu terus bertambah setiap waktunya, maka lama kelamaan secara tidak sadar, rasa suka bisa bertumbuh juga. Mungkin awalnya kamu kagum karena sifatnya yang super pengertian. Kamu heran karena ternyata di dunia ini masih ada sosok yang bisa mengerti dirimu yang memang mudah panik. Setiap hari ada saja yang membuatmu kagum, kamu membuka lapis demi lapis hal yang menarik tentang dirinya dan secara tidak sadar, kamu suka padanya.

Kamu ingin dia jadi milikmu. Kadang rasa suka itu sifatnya egois karena secara tidak sadar, kita menuntut orang lain untuk tetap berlaku seperti yang telah dia lakukan sebelumnya. Melakukan hal-hal yang membuat kita suka padanya. Kadang di tahap suka ini, kamu merasa sudah mengenal orang itu sepenuhnya. Tapi pada kenyataannya, masih banyak ‘sisi lain’ dari orang itu yang belum kamu ketahui. Kenyataannya, banyak orang yang setelah tahu ‘sisi lain’ tersebut, mereka memutuskan untuk mundur dari medan pertempuran.


Terobsesi

Terobsesi adalah kondisi saat pikiran kita hanya dipenuhi oleh orang ini. Kita bakal berupaya untuk memenangkan perhatiannya dengan cara apapun. Mulai dari nge-chat tiada henti setiap harinya, telepon, hingga terus-terus nge-mention dia lewat media sosial. Saat terobsesi dengan seseorang, kita juga jadi cenderung mengontrol dan memberi tekanan terhadap hidup mereka serta bakal ketakutan kalau lepas kontrol dari orang tersebut.


Infatuation

Infatuation atau perasaan tergila-gila memiliki kondisi yang hampir sama seperti saat kita naksir seseorang. Bisa dibilang infatuation adalah perasaan naksir yang sudah memuncak. Kita selalu pengin terus menghabiskan waktu dengan orang tersebut dan merasa nyaman kalau dia ada di sekitar kita. Hanya saja, dalam tahap infatuation kita tidak bisa memutuskan untuk beneran menyayangi orang tersebut dan terus-terusan bimbang untuk berkomitmen. Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya infatuation bakal luntur dengan sendirinya bersamaan dengan hilangnya rasa tertarik kita pada orang tersebut.

Nafsu adalah kondisi saat seseorang menginginkan hasrat dalam hal seksual. Saat berkomunikasi, seringkali diisi dengan chat yang sangat flirty. Kondisi nafsu hanya dipenuhi dengan keinginan untuk berinteraksi secara fisik saja, sementara seseorang dengan kondisi ini bakal ketakukan kalau beneran memiliki perasaan suka.


LEVEL 03

Cinta

Berbagai macam perasaan akan berujung pada cinta. Cinta yang tulus tidak berharap balasan, Jika hati ada cinta, maka kita akan melakukan apa untuk membuat dia bahagia. Cinta bukan sekedar ucapan. Kita akan mulai merasakan berbagai macam tantangan, tentang bagaimana beratnya memperjuangkan hubungan.

Cinta adalah kondisi ketika kita benar-benar merasa menyayangi dengan perasaan tulus dan dalam. Mood kita akan sering berubah-ubah tapi perhatian yang kita berikan termasuk unconditional, alias tulus tanpa syarat. Komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang kita cintai ini lebih dari sekadar chattingan, tapi sudah berinteraksi dengan ngobrol langsung dan diskusi yang berisi. Cinta juga enggak melulu harus dirasakan antara kita dengan gebetan atau pacar, tapi juga kepada orang tua dan keluarga.

Ketika kamu sudah bertemu cinta, kamu juga akan bertemu dengan yang namanya pengorbanan. Karena tidak ada cinta yang benar-benar nyata di dunia ini tanpa pengorbanan. Jangan langsung percaya ketika seseorang berkata, “Aku cinta padamu” karena kalau dia tidak menunjukkannya lewat tindakan nyata (sebuah pengorbanan), maka semuanya sia-sia.

Ketika kamu merasakan cinta, kamu akan (bahkan wajib) memberikan 100 persen dari yang kamu miliki. Ketika kamu tahu apa yang namanya cinta, kamu tidak akan menuntut dia memberikan balasan. Mengapa? Alasannya ada dua. Pertama, karena kamu cinta pada orang itu dan cinta tidak menuntut. Kedua, karena cinta tidak menuntut, cinta hanya mengharapkan. Kamu akan menunggu, walau kadang kamu tahu penantianmu bakal sia-sia.

Cinta dalam level ini meski tidak menuntut, namun hanya mengharapkan. Kamu akan menunggu, walau kadang kamu tahu penantianmu bakal sia-sia.

Kamu akan tetap memperhatikannya, walau kamu tahu dia memperhatikan orang lain. Kamu tetap memandangnya, walau kamu tahu di bola matanya ada sosok lain yang ia dambakan. Karena cinta berada di kasta paling tinggi, tidak heran tantangannya juga sangat besar.

Kamu yang mengerti cinta, berarti kamu juga mengerti ketika seseorang menjadi duniamu. Seakan-akan, dia jadi gravitasi yang selalu membuatmu jatuh berulang-ulang. Walau ada rasa sakit, tapi kamu indahkan karena dialah yang menjadi pusat duniamu.


LEVEL 04

Sayang

Rasa sayang adalah suka yang berlipatganda, hasil akumulasi dari suka serta keinginan untuk memiliki, rasa ingin bersama, hingga tak ingin jauh dari sisinya. Tidak sekedar dari penampilan luarnya saja, tapi juga kekurangannya. Sehingga timbul dorongan untuk menyatakan rasa.

Rasa sayang ini porsinya lebih besar dari rasa suka. Kalau di depot-depot, bisa dibilang rasa sayang itu porsi jumbo. Rasa sukamu sudah terakumulasi dan kini berubah menjadi rasa sayang. Rasa ingin memiliki, rasa ingin menghabiskan waktu bersama. Kamu bisa dibilang sayang seseorang saat kamu sadar ingin bertemu dengan dirinya setiap hari karena kamu senang dan nyaman di sisinya.

Kamu merasa sayang padanya saat kamu melihat dia dari hatimu, bukan sekadar kulit luarnya saja. Kamu tahu sifat-sifat jeleknya dan berusaha untuk menemukan solusi untuk dirimu pribadi dan juga dirinya. Ketika kamu sayang seseorang, kamu bakalan berusaha supaya kalian berdua bisa bersatu, saling memiliki selamanya. Sebisa mungkin kamu akan menjadi yang terbaik untuknya dan berharap dia juga akan menjadi yang terbaik untuk dirimu. Secara tidak langsung, ada tuntutan walau kesannya lebih halus dan rapi.

Ini dia nih kasta tertinggi dari perasaan seseorang di dunia. Sayang adalah cinta yang akan terbukti tulus tanpa syarat.

Karena cinta jenis ini (level 4), misalnya orangtua kepada anak bukan dinilai sebagai pengorbanan terhadap anak, karena tidak seperti jenis cinta (level 3) yang menuntut balasan terhadap apa yang mereka telah berikan. 

Namun di level ini kita tidak akan menuntut dia memberikan balasan. Karena kamu cinta dan cinta tidak menuntut. 


Sumber :

http://www.taufanyanuar.com/2014/05/tertarik-kagum-suka-sayang-dan-cinta.html

https://cewekbanget.grid.id/amp/06868002/perbedaan-naksir-suka-kagum-cinta-terobsesi-dan-nafsu-yang-harus-kita-tahu?page=all

https://www.idntimes.com/life/relationship/azka/kamu-perlu-tahu-apa-bedanya-tertarik-kagum-suka-sayang-dan-cinta?page=all

Sunday, June 4, 2023

Lebih cepat, Lebih baik, Sedikit beda

“Sedikit lebih beda itu, jauh lebih baik daripada sedikit lebih baik.”


Untuk unggul bisa memilih 3 hal : 

Lebih cepat, Lebih baik, Sedikit beda


@tendakonsultan

Saturday, May 20, 2023

Konsisten dan Persisten


Kunci sukses ada 2, yaitu konsisten dan persisten

konsisten = sesuai dengan rencana

persisten = gigih atau daya tahan yang kuat

Sunday, November 7, 2021

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Adjisaka, Gangsar. 2014. “Rahasia 7 Milyarder Dunia yang Akan Membantumu Cepat Kaya”. Yogyakarta. Araska.

Anwar & Tantrina. 2010. “Serba-serbi Profesi”. Jakarta. Bukune.

Ariezta, Monde. 2014. “Lorong Waktu. Buku tentang Time Management yang Membuat Anda Punya Waktu 100 Jam dalam Sehari”. Jakarta. Trans Media.

Arvini, Maya. 2014. “Career First”. Jakarta. GagasMedia.

Carnegie, Dale & Associates Inc. 2015. “Sukses Memimpin, Enhance Your Life by Becoming an Effective Leader”. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Carnegie, Dale. 2015. “How to Win Friends & Influence People”. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Charlie, Lie. 2004, "Kiat Sukses Memilih Karir”. Bandung, Nexx Media.

Covey, Stephen R. 2013. “The 7 Habits of Highly Effective People”. Tangerang. Binarupa Aksara Publisher.

Dharmasoeka, John Eddy. 2013. “From Luntang Lantung to International Expat”. Jakarta. PT Elex Media Komputindo.

Iskan, Dahlan. 2012. "Manufacturing Hope: Bisa!. Impian dan Gagasan Segar Dahlan dalam Mengelola BUMN". Jakarta. PT Elex Media Komputindo.

Iskandar, Harun. 2010, “Tumbuhkan Minat Kembangkan Bakat”, ST Book.

Jihad, Muadzin F. 2012. "Follow Your Passion". Jakarta. Trans Media Pustaka.

Kasali, Rhenald, Ph.D. 2014. “Self Driving. Menjadi Driver atau Passenger?”. Jakarta. Mizan.

Kotter, John P. 2014. “Leading Change. Strategi Kepemimpinan Bisnis dari Pakar Kenamaan Dunia”. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Maxwell, John C. 2009. “Sukses Dibangun Setiap Hari”. Mitra Media.

Newport, Cal. 2016. "Don't Follow Your Passion". Bandung. PT Mizan Publika.

Nurhajati, Lestari & Pitaloka, Ardiningtiyas. 2015. “My Career is Multi Career”. Solo. Tiga Serangkai.

Saputra, Aswar. 2013. “Money from Anywhere. Bagaimana Anda Menjadikan Kebiasaan-Kebiasaan KECIL Sehari-hari Menjadi Pohon Uang yang Tak Terduga”. Second Hope. Yogyakarta.

Siagian, Sondang P. 1995. “Teori Motivasi dan Aplikasinya”. Jakarta. PT Rineka Cipta.

Sinungan, Muchdarsyah. 2014. “Produktivitas Apa dan Bagaimana”. Jakarta. Bumi Aksara.

Soelistiyowati, Endang dan Nugroho, Vincent. 2012. “Strategi Komunikasi untuk Sukses Menjalin Relasi”. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Sudarsana, Cakra. 2016. “116 Kiat Mempertajam Kinerja Anak Buah. Tips Menciptakan Loyalitas, Profesionalisme dan Produktivitas Anak Buah”. Yogyakarta. Laksana.

Suhardono, Rene. 2011. “Your Job is Not Your Career”. Tangerang. Lentera Hati.

Sutanto, Teguh. 2012. “Soft Skill Sukses di Dunia Kerja”. Jakarta. PT Suka Buku.

Tjiharjadi, Semuil. 2007. “To Be a Great Leader”. Yogyakarta. Andi Yogyakarta.

Wahono, Satrio dan Purnomo, Dola. 2010. "Animal Based Management. Rahasia Merek-Merek Raksasa Berjaya". Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

 

 

WEBSITE

Fairuzabadi, Muhammad. "Struktur Tingkatan/Jenjang Karir Golongan Pegawai Negeri Sipil/PNS Indonesia". fairuzelsaid.wordpress.com. 27 Desember 2011. 29 Juni 2015. https://fairuzelsaid.wordpress.com/2011/12/27/struktur-tingkatanjenjang-karir-golongan-pegawai-negeri-sipilpns-indonesia/

Finansialku.com. "Cara Membuat Curriculum Vitae Yang Menarik Agar Diterima Di Perusahaan Yang Diinginkan". 27 Januari 2018. https://www.finansialku.com/cara-membuat-curriculum-vitae-yang-menarik/

Gajimu.com, "Ketentuan Seputar Kontrak Kerja". 01 Januari 2017. http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/kontrak-kerja/kontrak-kerja

Hary, Eka. "Tips Menulis Resume Tanpa Pengalaman Kerja". id.jobsdb.com. 7 Juli 2014. 7 Juli 2015. https://id.jobsdb.com/id-id/articles/tips-menulis-resume-tanpa-pengalaman-kerja?utm_campaign=single_article_candidate_june&utm_source=newsletter&utm_medium=newsletter&utm_content=link1&utm_term=%7bkeyword%7d

Hermanto, Yobel. “9 Tips Cepat Dapat Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah”. keluarga.com. 22 Januari 2015. https://keluarga.com/1485/9-tips-cepat-dapat-pekerjaan-setelah-lulus-kuliah

Kamus Besar Bahasa Indonesia, http://kbbi.web.id/karier

Kusumawardhani, Naftalia. health.kompas.com, "Tips Menjalani Psikotes". 14 September 2015. 01 Januari 2017. http://health.kompas.com/read/2015/09/14/181000823/Tips.Menjalani.Psikotes

Laruno.com. "Inilah 9 Perusahaan di Indonesia dengan Gaji Tertinggi". laruno.com. 12 Januari 2015. 29 Juni 2015. http://laruno.com/karir/inilah-9-perusahaan-di-indonesia-dengan-gaji-tertinggi/

Laruno.com, "10 Profesi dengan Gaji Tinggi di 2015", 16 Januari 2015. 02 Februari 2015. http://laruno.com/karir/10-profesi-dengan-gaji-tinggi-di-2015/

Nurdin, Mohamad. "Ada Wawancara HRD, Ada Wawancara User, Apa Sih Bedanya?", careernews.id. 10 Juni 2015. 01 Januari 2017. http://careernews.id/issues/view/3362-ada-wawancara-hrd-ada-wawancara-user-apa-sih-bedanya

Qerja.com, "Beberapa Hal Yang Perlu Anda Lakukan di Hari Pertama Bekerja". 01 Januari 2017. http://www.qerja.com/journal/view/46-beberapa-hal-yang-perlu-anda-lakukan-di-hari-pertama-bekerja/

Rachman, Fadhly F. "Ini yang Bisa Bikin CPNS Gagal Saat Tes Kompetensi Dasar". 30 Januari 2018. 26 September 2017. detik.com. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3659405/ini-yang-bisa-bikin-cpns-gagal-saat-tes-kompetensi-dasar

Ryandika, Rafael. "10 Karier di Indonesia Berpenghasilan Terbesar, Artis dan Anggota DPR Bikin Melongo!". today.line.me. 13 Desember 2016. 14 Desember 2015. https://today.line.me/id/article/dbf659f2c90fa99ed3261a8f6ed3d27f52c4d5f5049a8626b0efe57583cc36bd

Rizki, Tania. "4 Strategi Efektif Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Apa Kelemahanmu?’". id.jobsdb.com. 04 Juni 2015. 05 Juni 2015.

https://id.jobsdb.com/id-id/articles/4-strategi-efektif-untuk-menjawab-pertanyaan-apa-kelemahanmu

Setyanti, Christina Andhika. "Ini Alasan Anda Tak Kunjung Mendapat Pekerjaan". kompas.com. 04 Mei 2014. 02 April 2014. http://lifestyle.kompas.com/read/2014/04/02/1607332/Ini.Alasan.Anda.Tak.Kunjung.Mendapat.Pekerjaan.

Tespsikotes.com, "Manfaat dan Fungsi Tes Psikotes". 09 Februari 2015. 01 Januari 2016. http://tespsikotes.com/manfaat-dan-fungsi-tes-psikotes/

TipsKarir.Com, "Beberapa Jenis Tes Kepribadian Psikotes Beserta Tujuannya". 06 Mei 2014. 01 Januari 2017. http://tipskarir.com/beberapa-jenis-tes-kepribadian-psikotest-beserta-tujuannya/?v=d62a8d1683e6#.WGkEXFxJbIU

Vemale.com, "Agar Surat Lamaran Kerja Lolos Seleksi, Ini Tipsnya!". 21 Mei 2015. 24 Mei 2015. http://www.vemale.com/relationship/karier/81564-agar-surat-lamaran-kerja-lolos-seleksi-ini-tipsnya.html

Vemale.com, "Trik Jitu Agar Lolos Interview Kerja ", 29 Oktober 2014. 08 November 2014. http://www.vemale.com/relationship/karier/75023-trik-jitu-agar-lolos-interview-kerja.html

Wikipedia "Perusahaan". wikipedia.org 27 April 2015. 29 Juni 2015. https://id.wikipedia.org/wiki/Perusahaan

Yanuar, Taufan. “PPIC, Production Planning and Inventory Control”. industrialengineeringdepartment.blogspot.co.id, 15 Juli 2016. http://industrialengineeringdepartment.blogspot.co.id/2016/07/ppic.html

Zukarnain, Yahya. “Profesi-Profesi yang Terkait dengan Teknik Industri”, yahya29zulkarnain.blogspot.co.id, 06 Mei 2012, 01 Januari 2017, http://yahya29zulkarnain.blogspot.co.id/2012/05/profesi-profesi-yang-terkait-dengan.html


Saturday, November 6, 2021

Seven Habits

SEVEN HABITS (TO BE MORE EFFECTIVE PEOPLE)

Teori SEVEN HABITS To Be More Effective People merupakan buah pikiran dari Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul sama "The 7 Habits of Highly Effective People".

Stephen R. Covey merangkum 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, dimana kebiasaan merupakan faktor yang kuat dalam hidup kita.

Karena kebiasaan tersebut secara konsisten dilakukan setiap hari dan menjadi sebuah pola yang kita sadari atau tidak kita sadari sehingga mengekspresikan karakter kita dan ujungnya dalah menghasilkan efektifitas atau ketidak-efektifan kita sendiri.

Pemikiran - Tindakan - Kebiasan (plus Paradigma) - Watak - Nasib

Berdasarkan aliran sederhana diatas, bahwa kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan lakukan setiap hari merupakan akumulasi dari pemikiran dan tindakan kita sebelumnya.

Dan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi pola harian kita nantinya akan menghasilkan watak serta nasib kita di kemudian hari. Jika kebiasaan yang kita lakukan adalah kebiasaan yang efektif maka watak kita menjadi baik serta nasib kita juga akan mujur.

Begitu pula sebaliknya.

Yang membedakan orang-orang yang sangat efektif dengan orang yang tidak produktif adalah bukan pada apa yang mereka miliki, tetapi pada kebiasaan-kebiasaannya. Watak seseorang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Di alam bawah sadar, kebiasaan-kebiasaan itu membentuk dan mengubah watak seseorang. Dan ternyata kebiasaan-kebiasaan itu bisa diubah, asal kita mau walaupun membutuhkan waktu.

Taburlah pemikiran, maka Anda akan menuai tindakan.

Taburlah tindakan, maka Anda akan menuai kebiasaan.

Taburlah kebiasaan, maka Anda akan menuai watak.

Taburlah watak, maka Anda akan menuai nasib Anda.

Kebiasaan itu sendiri terjadi karena adanya paradigma. Yang dimaksud paradigma adalah sudut pandang atau kerangka yang terbentuk oleh pengalaman hidup, pendidikan maupun latar belakang kita.

Jika kebiasaan kita sebelumnya belum mencerminkan kebiasaan yang efektif, maka untuk itu perlu dilakukan perubahan paradigma untuk melakukan perubahan kebiasaan kita.

Paradigma inilah yang menentukan bagaimana kita memandang dan mengartikan dunia ini, dan dengan demikian menentukan bagaimana kita bereaksi dan bersikap terhadapnya. Sebagai contoh mula-mula astronom Mesir, Ptolemy mengatakan bahwa bumi adalah pusat jagat raya. Tapi kemudian Copernicus menyebabkan perubahan paradigma, ketika dia membuktikan bahwa sebenarnya mataharilah pusat dari jagad raya.

Pengertian akan konsep paradigma ini membuat orang belajar mengerti bagaimana orang lain memandang persoalan yang sama dengan kacamata yang berbeda. Pengertian tentang paradigma ini juga dapat menghindarkan orang dari sikap merasa dirinya sebagai korban lingkungan atau orang lain, sehingga seringkali melakukan "blaming others" (menyalahkan orang lain), karena menganggap dunialah yang salah kalau sesuatu itu tidak sesuai dengan harapannya.

Selanjutnya Stephen Covey menjelaskan bahwa di dunia ini ada hukum alam untuk kematangan. Seorang bayi berkembang dari ketergantungan pada orang tuanya menjadi mandiri sebelum akhirnya mencapai kamatangan pemahaman akan saling ketergantungan dengan orang lain di sekitarnya. Ekosistem alam tercermin dalam ketergantungan kolektif dari masing-masing warga masyarakat, satu terhadap yang lain.

Ketergantungan seorang bayi paradigmanya adalah "Engkau" (engkau merawatku, kalau ada yang salah, itu salahmu), sedangkan pada kemandirian remaja adalah "Aku" (ini pilihanku, aku akan mengerjakannya sendiri). Dan dalam tahap saling tergantung, orang dewasa adalah "Kita" (kita bisa bekerja sama, sebaiknya kita bersatu)

Dalam proses kematangan seseorang dari tahap ketergantungan (dependent) menjadi kemandirian (independent) dan kemudian saling tergantung (interdependent) ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikuasai supaya seseorang bisa menjadi sangat efektif.

Stephen Covey menyatakan bahwa adanya 7 kebiasaan yang perlu dimiliki. 3 diantaranya berkaitan dengan penguasaan diri, yaitu:

A. Ketergantungan / Dependent (Private victory)

1. Be Proactive (Jadilah pro-aktif)

2. Begin With The End in Mind

    (Merujuk pada tujuan akhir)

3. Put First Thing First

   (Dahulukan yang utama)

 

Kalau kita dapat menguasai ketiga kebiasaan ini, maka kita akan mengalami apa yang disebut "Private Victory" (Kemenangan Pribadi) dan kita boleh dikatakan telah mencapai tahap kemandirian (independent).

Setelah mandiri ini, kita dapat meraih "Public Victory" (kemenangan publik) dengan menguasai 3 kebiasaan selanjutnya, yaitu

B. Kemandirian / Independent (Public victory)

4. Think Win-Win (Berpikir menang-menang)

5. Seek First to Understand then to be Understood

   (Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti)

6. Synergize  (Wujudkan sinergi)

 

Proses ini tidak bisa dibalik, sebagaimana kita tidak mungkin panen sebelum menanam. Jadi prosesnya berlangsung dari dalam keluar (inside out), yaitu memulai dari diri sendiri (Ibda bin nafsi - Rasulullah SAW) baru dengan orang lain.

Dan kemudian kebiasaan terakhir

C. Saling tergantung / Interpendent

7. Sharpen the Saw (asahlah gergaji)

Sharpen the Saw  adalah kebisaan untuk selalu melakukan pengembangan diri.

Agar lebih paham mengenai 7 kebiasaan efektif tersebut, mari kita bahas lebih detail.

 

KEBIASAAN 1 : BE PROACTIVE

Bersikap proaktif tidak hanya berarti mengambil inisiatif tetapi juga bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Seseorang yang proaktif mempunya kebiasaan memilih sendiri keputusan-keputusannya dan bertanggung jawab akan akibat dari keputusannya itu.

Sedangkan orang yang reaktif (kebalikan dari proaktif) sikapnya berdasarkan kondisi atau sikap orang lain dan karena itu tidak bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan orang lain.

Contoh pernyataan orang proaktif sbb:

Apa pilihan yang ada?

Apa yang dapat diperbaiki?

Saya menguasai emosiku

Saya mau atau tidak mau

Saya suka atau tidak suka

Saya hendak dan merencanakan

 

Sedangkan contoh pernyataan orang reaktif sbb:

Saya tidak bisa berbuat apa-apa

Begitulah sifat saya

Dia sih yang bikin aku marah

Saya tidak bisa

Saya terpaksa

Seandainya saja                     

 

KEBIASAAAN 2 : BEGIN WITH THE END IN MIND

Ini adalah kebiasaan kepemimpinan diri (personal leaderhip) yaitu memulai suatu kegiatan dengan suatu kejelasan tentang apa hasil yang ingin dicapai. Segala sesuatu diciptakan dua kali. Produk apa pun yang dihasilkan pada mulanya telah ada sebagai konsep, baru kemudian secara fisik.

Misalnya : membangun rumah, selalu ada rancangannya terlebih dahulu.

Kepemimpinan adalah “ciptaan pertama”, yaitu “doing the right things“.

Manajemen adalah “ciptaan kedua”, yaitu “doing things right“.

 

KEBIASAAN 3:  PUT FIRST THING FIRST                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

Ini adalah kebiasaan mengelola prioritas. Kita harus bisa membedakan apa yang penting (important) dan apa yang mendesak (urgent). Hal-hal yang mendesak selalu “menyerang” kita, dan biasanya kita bereaksi terhadapnya; waktu kita banyak yang habis untuk mengurusi hal-hal yang mendesak ini, dan seringkali melupakan hal-hal yang justru penting.

Orang-orang yang sangat efektif pandai menggunakan waktunya untuk mengelola hal-hal yang penting, dan sikapnya yang proaktif akan mengurangi timbulnya hal-hal yang mendesak.

Kalau ketiga kebiasaan ini bisa kita kuasai maka kita bisa dikatakan mandiri, dan kini siap memasuki kehidupan yang saling tergantung atau interdependent. Agar kita bisa sangat efektif dalam hidup yang saling tergantung, kita perlu memiliki kebiasaan-kebiasaan selanjutnya.

 

KEBIASAAN 4 : THINK WIN-WIN

Menang-menang adalah suatu sikap mental untuk mencari keuntungan bersama. Pada dasarnya ada enam paradigma interaksi manusia; empat di antaranya adalah:

Menang/Kalah. Semboyannya “Kalau Anda menang, saya pasti kalah; jadi saya harus menang,  dan Andalah yang kalah” (contoh: kepemimpinan yang otoriter). Segala sesuatu menjadi persaingan dan setiap kemenangan harus menyebabkan kekalahan pihak lain.

Kalah/Menang adalah mentalitas orang kalah yang selalu tunduk pada keinginan pihak lain. “Apa sajalah, asal tetap damai”. Ini lebih buruk daripada sikap Menang/Kalah karena sama  sekali tidak mempunyai pendirian atau keberanian untuk menyatakan keyakinannya. Yang ada hanya mengalah terus-menerus.

Kalah/Kalah adalah hasil jika dua orang keras kepala, egois dan bersikap mau menang sendiri bertemu. Ini dapat berubah menjadi obsesi permusuhan yang dapat mendorong terjadinya peperangan. Orang dikuasai oleh dorongan untuk mengalahkan pihak lain, bahkan tanpa peduli  akan kerugiannya sendiri.

Menang/Menang adalah falsafah yang dianjurkan Stephen Covey bagi hubungan antara manusia. Yaitu, mencari terus menerus akan manfaat timbal balik dalam setiap interaksi.      

Dengan menganut paradigma ini, seseorang tidak akan bahagia kalau pihak lainnya tidak bahagia juga. Hidup ini dipandang sebagai kerjasama bukan sebagai permusuhan. Orang yang efektif berprinsip menang-menang dalam tindakannya dan kesepakatannya.

Mentalitas menang-menang ini baru bisa dilakukan kalau kita punya “abundance mentality”, yaitu pemikiran bahwa segala sesuatunya itu berkelebihan sehingga tidak perlu kita mematikan orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

Orang yang mempunyai sikap menang-kalah didasari oleh “scarcity mentality”, seakan-akan segala sesuatunya itu terbatas sehingga harus  diperebutkan, bilamana perlu dengan mengalahkan pihak lain.

KEBIASAAN 5 : SEEK FIRST TO UNDERSTAND THEN TO BE UNDERSTOOD

Inilah kebiasaan berkomunikasi secara efektif. Para dokter menganalisa penyakit pasiennya sebelum memberi resep. Seorang top salesman akan mempelajari kebutuhan pelanggannya terlebih dahulu sebelum menawarkan produk atau jasanya.

We see the world as we are, not as it is. Kita melihat dunia dari kacamata kita bukan sebagaimana adanya. Persepsi kita dibentuk oleh pengalaman-pengalaman kita, dan seringkali hal ini membatasi kita. Tantangan untuk memecahkan perbedaan pendapat adalah   dengan mencoba mengerti sudut pandang atau paradigma orang lain terlebih dahulu.

Kalau kita bisa mengerti secara penuh seseorang, maka ia akan menurunkan tembok pembatasnya.

Memaksakan kehendak kita secara emosional tidak akan produktif malahan sebaliknya: counterproductive.

 

KEBIASAAN 6 : SYNERGIZE

Ini adalah kebiasaan untuk mewujudkan kerja sama dan mencari alternatif-alternatif baru yang jauh lebih besar.

Sinergi berarti 1 + 1 > 2. Sinergi adalah hasil dari menciptakan suasana di mana orang-orang yang berbeda dapat saling memberi sumbangannya berdasarkan kekuatan masing-masing sehingga hasilnya akan lebih besar dibandingkan bila dikerjakan sendiri-sendiri.

Sinergi adalah pendekatan yang paling efektif untuk memecahkan persoalan daripada sikap yang apatis (asal damai saja) ataupun konfrontasi (tidak mau kalah).

 

KEBIASAAN 7 : SHARPEN THE SAW

Ini adalah kebiasaan untuk perbaikan diri. Istilah ini berasal dari kisah dua orang tukang kayu. Yang satu terus menggergaji dan merasa terlalu sibuk untuk berhenti sebentar. Yang lain berhenti sesekali untuk mengasah gergajinya. Justru yang kedua ini hasilnya lebih banyak dan lebih baik.

Seorang yang efektif akan melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan pertumbuhan pengetahuan, mental, spiritual maupun ketahanan fisiknya, karena menyadari bahwa dengan pengembangan diri itu dia bisa lebih produktif dan efektif dan tidak “habis-habisan”.

Tak Usah Dendam, Biarkan Alam Melakukan Tugasnya

Dalam hidup, kita sering kali dihadapkan pada situasi di mana orang lain menyakiti atau mengecewakan kita. Secara naluriah, mungkin ada doro...